LA Modul 2

 



1. Jurnal [Kembali]

1. Mengukur dan Mengamati Tegangan Searah dan Tegangan Arus Bolak-Balik

Tegangan DC
Amplitudo VppPeriodaFrekuensi
2.4 V--
Tegangan AC
Amplitudo VppPeriodaFrekuensi
41.4 V997μs1003 Hz


2. Membandingkan Frekuensi

Jenis Gelombang Frekuensi Oscilloscope Frekuensi Function Generator
Sinusoidal 997 Hz 1 KHz
Gergaji 1002 Hz 1 KHz
Pulse 1000 Hz 1 KHz


3. Membandingkan Frekuensi dengan Metode Lissajous

Perbandingan
Frekuensi
Frekuensi
 Generator A
 (fy)
Frekuensi
 Generator B
 (fx)
Gambar Lissajous
1:1 1 kHz 1 kHz

1:2 1 kHz 2 kHz

2:1 2 kHz 1 kHz

1:3 1 kHz 3 kHz

3:1 3 kHz 1 kHz

2:3 2 kHz 3 kHz

3:2 3 kHz 2 kHz


4. Pengukuran Daya Beban Lampu Seri

Beban Daya Terukur V total I total Daya Terhitung
1 Lampu 0,3009 Watt 0,25 V 0,2 A 0,05 Watt
2 Lampu 0,8807 Watt 0,8 V 0,2 A 0,16 Watt
3 Lampu 1,3288 Watt 0,3 V 0,2 A 0,06 Watt


5. Pengukuran Daya Beban Lampu Paralel

Beban Daya Terukur (Watt) V total I total Daya Terhitung (Watt)
1 Lampu 0,5629 1.8 V 0.29A  0.522
2 Lampu 1.0782 1.8 V 0.24 A 0.432
3 Lampu 1.5579 1.8 V 0.29A 0.522


2. Prinsip Kerja [Kembali]

1. Kalibrasi Osciloscope

  • Hidupkan oscilloscope dan tunggu beberapa saat sampai pada layar akan muncul berkas elektron.
  • Atur posisi sinyal pada layar sehingga terletak di tengah-tengah.
  • Hubungkan input kanal A dengan terminal kalibrasi yang ada pada oscilloscope.
  • Amati bentuk gelombang dan tinggi amplitudonya. 

 2. Pengukuran dan Mengamati Tegangan Searah dan Tegangan Bolak-Balik


  • Susun rangkaian seperti gambar di atas.

Tegangan Searah 

  • Atur output power supply sebesar 4 Vol
  • Hubungkan input kanal B oscilloscope dengan output power supply 
  • Atur saklar oscilloscope pada DC, bacalah dan amati berapa tegangan yang diukur oleh oscilloscope

 Tegangan Bolak Balik

  • Atur generator sinyal pada frekuensi 1 kHz gelombang sinusoidal, dengan besar tegangan 4 Vp-p
  • Kemudian ukur dan amati tegangan ini dengan oscilloscope.

3.Mengukur dan Mengamati Frekuensi



  • Susun rangkaian seperti gambar di atas.
  • Hubungkan output dari function generator dengan input kanal A oscilloscope. Saklar fungsi dari function generator pada posisi sinusoidal.
  • Amati bentuk gelombang yang muncul pada layar, kemudian ukurlah frekuensinya. Catat penunjukan frekuensi dari function generator.
  • Bandingkan hasil pengukuran frekuensi dengan oscilloscope dengan frekuensi yang ditunjukan oleh function generator.
  • Ulangi langkah b dan c untuk gelombang gigi gergaji (segitiga) dan gelombang pulsa.

 4. Membandingkan frekuensi dengan cara Lissajous



  • Susun rangkaian seperti gambar di atas.
  • Atur selektor time base oscilloscope pada posisi XY dan saklar pemilih kanal pada posisi A dan sinkronisasi pada posisi B.
  • Hubungkan sinyal dengan frekuensi yang tidak diketahui pada input A dan sinyal dengan frekuensi yang dapat dibaca pada input B.
  • Atur frekuensisinyal pada kanal A,sehingga diperoleh gambarsepertisalah satu dari gambar 2.1. Kemudian amati berapa perbandingan frekuensinya.Bacalah penunjukan frekuensi generator.
  • Ulangi langkah b dan c untuk frekuensi yang lain dan catat hasilnya dalam bentuk gambar gelombang Lissajous.
  • Atur perbandingan X:Y pada 1:1, 1:2, 1:3, 2:1, 2:3, 3:1, 3:2
 5. Pengukuran Daya Satu Fasa



  • Buat rangkaian seperti Gambar diatas dengan sumber AC dan beban 25 watt.
  • Ukur daya yang terbaca pada wattmeter.
  • Ulangi untuk beban yang berbeda-beda sesuai dengan Tabel.
  • Catat penunjukan dari wattmeter.

3. Video Percobaan [Kembali]

1. Kalibrasi Osiloskop dan Mengukur serta Mengamati Tegangan Searah (DC) dan Tegangan      
    Bolak-Balik (AC)

→ Video link

2. Membandingkan Frekuensi

→ Video link

3. Membandingkan Frekuensi dengan Metode Lissajous (1 contoh, perbandingan 2:3)


4. Analisa[Kembali]

1.Mengapa perlu dilakukan kalibrasi sebelum osiloskop digunakan?

    Kalibrasi diperlukan agar hasil pengukuran pada osiloskop menjadi akurat dan sesuai dengan nilai sebenarnya. Tanpa kalibrasi, pembacaan tegangan atau bentuk gelombang bisa bergeser dari nilai aslinya sehingga menyebabkan kesalahan analisis. Berdasarkan prosedur yang telah dilakukan, osiloskop menghasilkan gelombang kotak (square wave). Gelombang ini digunakan sebagai acuan untuk memastikan bahwa skala vertikal (Volt/div) dan horizontal (Time/div) sudah tepat.

2. Jelaskan perbedaan tegangan AC dan DC pada osiloskop berdasarkan amplitudo, frekuensi, dan perioda!

    Tegangan AC dan DC dapat dibedakan dengan jelas pada tampilan osiloskop berdasarkan bentuk gelombang, amplitudo, frekuensi, dan periodanya.

  • Tegangan DC memiliki nilai konstan terhadap waktu, sehingga pada osiloskop akan terlihat sebagai garis lurus horizontal. DC tidak memiliki frekuensi maupun periode (f = 0, T = 0).
  • Tegangan AC berubah terhadap waktu dan biasanya berbentuk sinus. AC memiliki amplitudo maksimum, frekuensi, dan periode yang dapat diukur.

3. Jelaskan macam-macam bentuk gelombang berdasarkan generator fungsi dan frekuensi

    Generator fungsi dapat menghasilkan beberapa bentuk gelombang yang berbeda, dan masing-masing memiliki karakteristik serta penggunaan tertentu dalam rangkaian elektronik. Bentuk gelombang ini juga dapat diatur frekuensinya, sehingga mempengaruhi seberapa cepat sinyal berulang dalam satu detik.

Beberapa bentuk gelombang yang umum adalah:

  • Gelombang sinus: Gelombang ini berbentuk paling halus dan kontinu, banyak digunakan pada sistem listrik AC.
  • Gelombang kotak (square wave): memiliki perubahan tegangan yang sangat cepat, sering digunakan pada rangkaian digital dan juga terlihat saat kalibrasi osiloskop.
  • Gelombang segitiga (triangular): naik dan turun secara linear, sering digunakan dalam pengujian sinyal.
  • Gelombang gigi gergaji (sawtooth): naik secara bertahap lalu turun tajam, biasanya digunakan pada sistem scanning atau kontrol.

4. Bandingkan nilai daya yang terukur dan nilai daya yang terhitung pada pengukuran daya beban lampu seri

    Dari data yang diberikan, terlihat bahwa nilai daya yang terukur jauh lebih besar dibanding daya terhitung pada semua kondisi.

Secara teori, daya dihitung dengan:

Namun pada rangkaian seri, tegangan terbagi di setiap lampu sehingga seharusnya daya relatif kecil. Perbedaan besar ini kemungkinan disebabkan oleh:

  • Kesalahan pembacaan alat ukur
  • Nilai tegangan yang tidak stabil
  • Adanya resistansi internal 
  • Ketidaktepatan saat pengukuran arus/tegangan

Secara umum, hasil menunjukkan adanya deviasi signifikan antara teori dan praktik.

5. Bandingkan nilai daya yang terukur dan nilai daya yang terhitung pada pengukuran daya beban lampu paralel

Pada rangkaian paralel, tegangan pada setiap lampu sama (1.8 V), sehingga perhitungan daya lebih stabil. Hasil percobaan menunjukkan bahwa nilai daya terukur dan terhitung lebih mendekati dibanding rangkaian seri, namun, tetap ada selisih. Hal ini dapat dikarenakan oleh arus total yang tidak terbagi secara ideal, dan efek resistansi kabel sambungan antar komponen.

Kesimpulannya, rangkaian paralel memberikan hasil yang lebih mendekati teori dibanding rangkaian seri, tetapi tetap terdapat error percobaan.


5. Download File [Kembali]

File Jurnal - saran dapat di download disini

Comments